Minggu, 02 Maret 2025

Uang dan Teman

Jadi suatu ketika. Ini curhat tipis-tipis aja nih. Aku kan lagi kesulitan banget ya. Roda itu memang berputar. Begitupun kehidupan. Dan perputarannya amat cepat.Balik ke cerita. Selama setelah menikah, aku bersikap seolah tak punya teman. Karena memang kesibukan mengurus rumah tangga, karir dan kuliah pada saat yang bersamaan waktu itu sudah sangat menyita waktu. Sehingga untuk kumpul bareng teman-teman, sudahlah tidak mungkin.

Beberapa waktu kemudian aku dihadapkan oleh pilihan yang cukup kompleks. Diantara ketiga kegiatan yang kujalani, satu harus kutinggalkan. Apakah keluargaku, Karirku, atau pendidikanku. Namun, seperti kebanyakan orang lain. Akupun memilih meninggalkan pendidikanku. Aku berhenti kuliah dan tetap pada karirku, pun keluarga kecilku.

 Akhirnya aku tetap menata hatiku untuk tak berteman. Dengan orang-orang di kantor dan teman sekolah lamapun aku pikir kami hanya kenalan biasa. Sampai suatu hari, keadaan memaksaku untuk resign dari perusahaan. Karena kondisinya juga bertepatan dengan putra bungsuku yang akan masuk TK, akhirnya aku mantap memutuskan resign. 

Disamping itu keadaan suamiku yang cukup mapan kala itu membuatku tidak ragu lagi untuk segera resign. Namun pada suatu hari yang tidak kami sangka, suamiku kena PHK massal dimana perusahaan tempatnya bekerja jatuh bangkrut. Ya, disinilah semua tragedi perhutangan itu dimulai. Bukan karena suamiku tak cakap dalam mencari pekerjaan. Namun kriteria perusahaan yang cukup menyulitkan membuatnya tersingkir setiap kali mengikuti test seleksi calon karyawan atau proses recruitment.

Salah satu penyebabnya tentu umur dan pendidikan. Banyak sekali sarjana muda yang kelihatan modis dan berpendidikan tinggi. Tentunya membuat persaingan semakin ketat. Kami semakin terpuruk. Anak-anak yang membutuhkan banyak biaya sekolahpun menjadi korban. Meski Alhamdulillah mereka tidak sampai harus putus sekolah karena pemda menggratiskan sekolah negeri di kota ini. Namun begitu, ada saja biaya yang harus kami gelontorkan demi pendidikan mereka.

Diantaranya seragam, buku, ATK, uang kas kelas, tugas-tugas yang terkadang mengharuskan menggunakan dana, dan lain sebagainya. Tentu saja aku tidak menyalahkan itu. Karena itu hal yang wajar. Tidak mungkin pendidikan sepenuhnya tanpa biaya kan. Jadilah kami berhutang sana sini. Bank, rentenir, lintah darat, dan segala macam sebutan mereka sudah kami pinjami. 

Untuk meminjam ke teman, tentu saja kami malu. Tapi keadaan memaksa kami harus melakukan itu. Sampai pada akhirnya hutang kami menggunung tak terkira. Termasuk ke salah satu teman lamaku dulu di SMP. Dulu saat SMP kami cukup sangat dekat. Keadaannya berbanding terbalik denganku. Ia anak orang sederhana yang Alhamdulillah orangtua dan kakak-kakaknya mensupport penuh pendidikannya. Meski terbatas ekonomi, Ia gigih bersekolah. 

Dia cerdas dan ceria. Kami sangat dekat dan berbagi cerita apapun pada saat itu. Aku sebagai anak orang berada waktu itu, sudah barang tentu tidak bermasalah dengan uang. Tapi perbedaan ini tidak membuat kami canggung. Sampai kemudian kami lulus SMP dan berpisah sekolah. Jadilah kami berjarak.

Aku memang type yang mudah berubah disekeliling. Ketika SD, aku punya teman dekat, kemudian ketika SMP, teman dekatku berganti, begitupun saat masuk SMA, aku mendapat teman dekat lagi. Dan setiap kali aku berteman dengan orang baru, maka teman lamaku agak tidak terjangkau. Karena memang aku yang seperti itu orangnya.

Namun akhirnya ketika kami dewasa dan memiliki keluarga serta kehidupan masing-masing, keadaan berubah. Rodaku sedang berada dibagian bawah, namun Alhamdulillah teman dekatku semasa SMP ini sedang berada dibagian atas. Akupun akhirnya terpaksa meminta bantuannya kala itu. Meminjam uang yang menurutku cukup lumayan. Entah bagi sebagian orang. Tapi bagiku itu banyak.

Aku yang memang sedang sekarat masalah uang, akhirnya tak mampu membayar teman-temanku yang kuhutangi. Dengan sangat terpaksa, aku mencoba melarikan diri. Namun bukan untuk menghindar dari membayar hutang. Aku berniat melunasi semua hutangku begitu keadaan membaik. Aku berusaha bangkit lagi. Bagaimana caranya aku bisa membayar mereka.

Tapi seperti kebanyakan orang, mereka tidak akan mau mengerti. Meski teman, mereka tetap menuntutku untuk membayar. Jadilah aku terpaksa gali tutup lubang untuk melakukan semua itu. Tapi karena tekadku sudah bulat, pada akhirnya aku memutuskan untuk lari sementara. Aku menghilang dari kehidupan teman-temanku itu. Aku sangat malu. Namun tak ada cara lain.

Karena jika kuteruskan, hutang-hutang itu tidak akan ada selesainya. Harus terus menggali tutup lubang demi bisa membayar hutang satu ke hutang yang lainnya. Aku mengabaikan telepon dan pesan mereka. Ketika mereka datang ke rumahpun, aku menghindar.

Tapi demi ALLAH yang Maha tahu isi hatiku. Tidak sedikitpun aku berniat lari dari hutang. Aku berjanji ketika semua keadaan ini membaik, hutangku inshaAllah pasti kulunasi tanpa kecuali kepada teman-temanku bahkan jika memungkinkan, pada lembaga sekalipun.

Namun suatu ketika, entah kenapa pesan di WhatsApp ini agak mengusikku. Iya, teman lamaku dulu akhirnya mendapatkan nomorku entah dari mana. Biasanya, aku akan abaikan pesan atau telepon mereka. Namun entah kenapa kali ini akhirnya aku membalas pesan itu. Kukatakan aku minta maaf belum sanggup membayar hutangku. Kupikir jika Ia marah, itu wajar dan aku akan menerima saja.

Tapi plot twistnya, dia malah bilang menghubungiku bukan untuk menagih hutang. MaasyaAllah, serasa ketiban durian runtuh. Ia bilang dia sudah mengikhlaskan uang itu untuk anak-anakku katanya. Ya Allah, padahal itu uang yang tidak sedikit. Bisa dipakai makan satu minggu. Dia yang dulu kesulitan ekonomi ketika SMP, kini malah menolongku yang sedang tenggelam dalam lumpur hutang.

Serasa diterpa angin sejuk ketika dia berkata mengikhlaskan uang pinjamannya untuk anak-anakku. Ya Allah, aku tak bisa berkata-kata dan hanya bisa mendoakan semua yang terbaik baginya. Berikan Ia kemudahan dan kelancaran dalam setiap aktifitasnya setiap hari dan limpahilah Ia rezeki yang halal dan banyak. Aamiin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dimohon berkomentar dengan sopan dan tanpa provokasi apapun. Anda sopan kami segan.

Saya mengucapkan Banyak Terima Kasih untuk pemirsa semua yang sudah menyempatkan diri mampir ke Blog ini. Apabila ada salah informasi atau ketidaksesuaian saya dalam menulis artikel, dimohon kerjasamanya untuk informasikan hal tersebut langsung ke email saya di mamacicareal@gmail.com atau DM melalui media sosial apapun di akun @mamacicareal. Terima Kasih